Saturday, April 22, 2006

Angelic Face


17.02.2006.
Here he comes...
After all of those waiting times..
After all of those morning sickness..
After all of those worry thoughts..

After all of those sickness on the road..
After all of those ride in the rain..
After all of those restless nights..

After all...

It was all payed for..
when we saw this
angelic face...



Welcome, Fatih..
We've been longing for you.

Thursday, September 01, 2005

The Silence

There's a sunset in my mind today. Not the sunset stolen by Sukab, and sent in a letter to his beloved Alina*. Not the kind of sunset beautifully portrayed by famous artists on their canvases. No, it just a twilight sunset across the city, when the sun shrouded its light, before slowly, duck itself into the horizon.

A sunset carries thousands of feeling in its presence. It's loaded enough to blast an explosion of emotion, either joy or pain. Some might not like sunset because the gloomy, sad mood, but some might love the romantic-beautiful sunset 'cause they filled with lots of joy. But I love sunset for both reason. Yes, I love spending my sunsets in gloomy mood, enjoying the pain getting to my bones. Yes, I love spending sunsets in its beauty, feeling the romantic atmosphere possessing my soul. And yes, no other thing can match those feelings.

This sunset, I can't really tell, which feeling is in me... There have been so many things happening around here. I've been in another position lately, so my shooting days are over, for now. No more of those rumbling and chaotic days. I kinda miss them, though. It's fun to do some challenging jobs, doing something that can be seen on the screen. But sometimes, things just getting so messed up, and the effort to make it alright was consuming my mind and body, another taste of it could lead me to hospital treatment, mental or medical. So here I am, doing another job, dealing more with non-living things, and paperworks. Kinda boring, but maybe, just maybe, I need the break. Plus, I could use the spare time more (hopefully) productively. So instead of making tv shows, I end up watching them more, because there is a tv in a room where I work. The gossip show, the news, drama, movie, or even the new hip series. I watch those affair gossips, the crime, the crisis, cheezy religious-wannabe drama, violence, even several desperate housewifes. It's too much information, I say. So when I looked outside the window, saw the reddish sky, I didn't know what should I feel: sad, angry, concerned, suffocated, obnoxious, or amused but confused?

I just stood there, with the all of the feelings, and the sun was going down. Slowly, the feelings are fading away, leaving an empty atmosphere in me. Just silence...until the sun went down, leaving the face of darkly night.

Sometimes, I think, we need a moment of silence. Leave out anything, just to enjoy a moment passes by, slap yourself (in a veeeeery soft way) and saying, "Hey, I'm still alive!".

Just another foolosophy though ;)


(*)"Sepotong Senja Untuk Pacarku", Seno Gumira Ajidarma

Tuesday, August 16, 2005

The Return of sentimentalasshole

Hello.

Rasanya malu, mengucapkan satu kata itu, karena sudah sebegitu lamanya meninggalkan blog ini, di luar kehendak saya--tentunya. Setelah cukup lama hidup kembali di masa kegelapan-tanpa internet, pdhl pelanggan milis yg super aktif, membuat saya cukup gelagapan ketika berada di depan komputer (yg online, tentunya). Betapa banyak e-mail yg terlewat 3 bulan belakangan, betapa kencang dunia berlalu, sedang saya rasanya nggak kemana-mana... Jadi ingat lagunya Keane:
people are changing
and I don't feel the same...
Menyenangkan, sekaligus menyebalkan :j
Blog yang sederhana ini jadi terombang-ambing dalam ketidak-pastian, seperti nasibnya Dunia Lain: The Movie yg belum tayang2 juga di bioskop :j Tapi akhirnya, saya kembali! (^_^)V

Oya, terima kasih untuk yang sudah mampir selama blog ini hiatus, maaf belum bisa balas mengunjungi, & semoga saya makin rajin update lagi biar nggak pada bosen mampir, hehehe.

Kabar lain lagi, saya sudah 'berhasil' menyarangkan 'gol' :P Bukan, bukan pertandingan liga champions, tp setelah pernikahan bulan mei kemarin, alhamdulilah istri saya sudah mengandung anak kami yg pertama. Mohon doanya ya, supaya anak ini selamat, jadi anak yang kuat & shalih, berguna bagi nusa, bangsa, & dunia, aamiin.

Waktu 3 bulan cukup lama, untuk tetap menuliskan apa saja, tapi sayangnya itu tdk saya lakukan. Saya malah tenggelam dalam kesibukan kerja & rumah tangga, tanpa menuliskan secuil kalimat pun. Sebenarnya ada sih, beberapa kalimat dari cerpen yg ingin saya rombak, tp berhenti sebelum jadi sebuah paragraf :P. Mungkin seseorang harus 'bertapa' dalam kesibukan hidupnya, sebelum akhirnya punya cukup waktu untuk melihat kembali ke belakang dan merenungi semuanya, hingga punya bekal yg cukup untuk memulai sesuatu yang baru...

Ah, pokoknya saya senang bisa kembali! :)

Tuesday, May 17, 2005

Sentimental-asshole: The Wedding

Hello world.

Long time no see, eh? (or long time no read? dunia maya gitu loooh? :P)
It has been too long since my last update. Setelah proyek Dunia Lain: The Movie selesai, ternyata banyak yang udah nunggu; program2 reguler, pindahan kantor (ruangan sub-dept gue pindah ke lt 7), yg berakibat pada nggak ada koneksi internet whatsoever sampe sekarang (gue sekarang ini ngenet dari ruangan Transinema di lt. 1), dan yang terpenting adalah... nikahan gue.

Yup, sabtu ini gue getting married. Begitu kelar film, gue baru nyadar kalo waktu persiapan tinggal 1 bulan. Walhasil, tunggang langgang dengan sukses. Termasuk keuangannya juga :P. Tapi alhamdulillah, semua bisa cukup teratasi. Tinggal sekarang, menunggu harinya tiba...

Makanya, (lagi-lagi) gue bakalan lama lagi posting nih. Basi ya?
Tapi sekarang mudah-mudahan gak lama deh. Susah juga hidup tanpa internet hari gini.

Jadi... gue dan calon istri, mo minta doa restunya aja. Moga-moga kami berdua bisa menjadi keluarga yg sakinah, mawadah, dan rahmah. Amin.

Buat yg mo (& bisa) datang, hubungi aja japri ya... gak enak kalo dipampangin di sini sih ;)

Until then :)

Wednesday, March 30, 2005

Shots from the movie

Gue blm bisa nulis bwt blog ini, tp bisa share sedikit foto dr film yg lagi gw kerjain. Semuanya jepretan gw (selagi sempet) di tengah2 syuting. Ini semua cuma thumbnail, jd kalo mo liat yg rada gedean tinggal diklik aja gambarnya.
Here they go...



Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

That's all for now. I'll be back later, soon :)

Friday, February 25, 2005

Debts: The Movie

Lagi-lagi jarang update. Yah, musuh pertama gue skrg adalah rasa malas. Malas yg makin sering datang, terutama kalo pikiran udh beredar ke mana-mana. Well, I'm taking counter measures for it, for now. Here I am, writing some more nonsense again :)

Gue banyak berpikir tentang karir gue belakangan ini, & berpikir utk menggantinya dengan... ya dengan yg lebih cocok. Agak fatal sebenarnya, mengingat ini sudah masuk tahun kedua gue di posisi gue sekarang. Well, a man gotta try in order to succeed. If one should failed, it's a knowledge. Dalam pencarian, datanglah tugas itu ke gue: gue diikutin utk bikin FILM. Bukan, bukan film yg dijual asongan di kebun binatang; Film layar lebar; a freakin' movie.

Jadi inget lagi. Salah satu faktor yg bikin gue pengen masuk ke tmpt kerja gue skrg adalah: ikut terlibat dlm pembuatan film layar lebar. In so much different role, of course. Niat gue waktu itu sih pgn jd editor. Jadinya malah ke art-property :j. This movie, btw, not exactly the kind of movie I'd like to be involved in. But, well, a movie still a movie anyway. I am hired as professional, so it's my job to do it, with excellence. When I think of it, mungkin ini satu2nya 'hutang' gue ke diri sendiri yg blm terbayar...

Syuting film ini (menurut jadwal sementara ini) dimulai awal Maret ini, +/- sebulan lah. Jadi gue bakalan lebih lama ga update blog ini (emang biasanya rajin?? :P) Ya begitulah... Doakan saya ya! (dgn mata menyipit & mengacungkan dua jari) (^_^)V

Saturday, February 12, 2005

Future: The Final Frontier

It has been awhile since my last movie watching. Well, I was orbiting a bizarre line of my life, kinda stranded in space. I haven't seen many movies lately, despite of having a high pile of dvds. Work, wedding arrangements, & books, are things I'm in to lately. But even a lost-in-space orbiter finds a decent space station once and awhile, so why can't I?

Jadi nontonlah saya. Mencoba mencuri sedikit waktu dari hari2 yg tersita. Sudah agak lama sih, sekitar 2 minggu yg lalu.
"Kemana aja sih?"
Ya gak kemana-mana. Di sini saja. Kan sudah bilang kalo saya 'tersesat dlm ruang' (terjemahan bebas)...
"Ah sudahlah. lalu?"

Saya sempat nonton tiga film: The Aviator, Millenium Actress (dvd), & Tokyo Godfathers (dvd).
Dua yg terakhir itu anime jepang, dgn sutradara Satoshi Kon. Saya sangat terkesan dgn dua film yg pertama, secara tema agak2 berkaitan, selain visi sutradara2nya yg asyik utk disimak. The Aviator (Martin Scorcese) bertutur ttg kisah hidup seorang Howard Hughes, seorang pengusaha yg dikenal sebagai pendiri Hughes Aircraft, salah satu industri pesawat (yg pernah) terkemuka AS. Tau helikopter serang Apache? Yg membuatnya itu Hughes Helicopters, bagian dr Hughes Aircraft, yg sekarang sdh jd milik Boeing. Anyway, film ini menggambarkan perjalanan hidup Hughes sejak muda, yg memilih memulai 'karir'nya dgn menjadi sutradara & produser film, drpd menjalankan bisnis minyak keluarganya. Di sini terlihat karakter Hughes yg tak pernah berubah sampai tua; seorang perfeksionis, & pekerja keras yg keras kepala. Kerja keras bertahun-tahun dlm film pertamanya itu terbayar. Ketenaran dia raih, tapi dia merasa tak nyaman dgn itu. Hatinya ternyata tertambat di dunia yg lain: penerbangan. Maka dia mendirikan industri pesawatnya sendiri. Ia juga membeli TWA, maskapai penerbangan yg hampir bangkrut. Dgn TWA, ia menjadi org pertama yg berhadapan dgn PanAm, maskapai yg memonopoli rute penerbangan internasional (terutama eropa). Konflik dgn PanAm ini yg banyak menguras emosi seorang Howard Hughes. Penggambaran dramatis Scorcese berpusat di sini. Betapa org yg sangat kuat pendirian & percaya diri seperti Hughes sampai terguncang jiwanya, krn konflik tsb sampai mengacak-acak bisnis & kehidupan pribadinya. Dia jg menghadapi pengadilan kongres yg membuatnya jd sorotan publik, sesuatu yg tdk dia sukai. In the end, dia bisa bangkit kembali & menghadapi semua. Hughes is back on the wheel again. However, ada sesuatu yg tersisa dari konflik itu; setiap kali ia merasa senewen, dia akan mengulang-ulang ucapannya yg terakhir, seperti piringan hitam yg selip. Pada suatu saat ia terhenti di satu kalimat: "The way of the future...". Di situ lah digambarkan Hughes menemukan kembali tujuan hidupnya, menjadikan setiap apa yg dia kerjakan menjadi 'the way of the future'... Menghasilkan semua yang menjadi terbaik di waktu itu.
What a goal.

Selanjutnya, Millenium Actress by Satoshi Kon. Anime ini sebenarnya sudah berumur agak lama, thn 90an lah. Tapi saya memasukkan anime ini dlm daftar koleksi secara menurut seorang teman penceritaannya unik. Dan ternyata memang benar, teknik berceritanya luar biasa. Cerita Millenium Actress bermula dr proses penghancuran sebuah studio film yg terkemuka di masanya, yg menelurkan banyak bintang dan salah satu yg paling terkenal adalah Riyoko Kobayashi. Berkaitan dgn itu akhirnya seorang penggemarnya, seorang pembuat film amatir, membuat sebuah dokumenter ttg kisah sang aktris dari masa lalu hingga sekarang. Jadi ceritanya berpusat pada biografi sang aktris. Sederhana sebenarnya, tp digambarkan dgn cara yg tidak sederhana. Wawancara yg dilakukan si film-maker tsb mengantarkan pd flashback2 cerita dari sudut pandang sang aktris, tp tanpa menghilangkan si pewawancara & kameramennya. Kedua org itu muncul dlm flashback2 ke masa lalu tsb sebagai stalker yg menguntit ke mana pun sang tokoh pergi, bahkan dalam flashback film2 yg dibintangi sang aktris, si pewawancara selalu ikut menjadi salah satu pemerannya! Talking about wild imagination... Inti cerita dari film ini adalah apa yg melatarbelakangi kehidupan sang aktris selama ini. Riyoko menhabiskan masa mudanya menjadi aktris dgn harapan dia akan bertemu dgn pujaan hatinya; seorang pelukis yg menjadi buron polisi militer kekaisaran di masa PD II. Cerita semacam itu pula yg menjadi 'roh' dlm setiap film yg dia bintangi; pencarian seorang yg dia cintai, yg terpisahkan karena politik & kekuasaan. Walaupun bertahun-tahun berlalu, ia tak pernah berhenti mencari, hingga ajal menghampirinya. Ia tak peduli apakah ia akan bertemu dengan dicari atau tdk, selama ia masih dpt berusaha mencari, ia akan melakukannya...

Hmm... Kedua film itu bertutur tentang satu hal yg sama: tujuan hidup.
Itu membuat saya berpikir tentang tujuan2 hidup saya, dan apakah usaha2 yg saya lakukan sudah mengarah ke sana. Pikiran yg sebenarnya sudah mengorbiti benak saya belakangan ini.
"Mau seperti apa masa depanmu?", "Mau jadi apa?", "Bagaimana?", adalah pertanyaan2 yg harus saya jawab dlm beberapa tahun ke depan.
Entahlah, saya masih perlu waktu utk berpikir....

Tuesday, February 01, 2005

The Linguistic [R]Evolution

[mode standar bahasa #3 = on]

Posting yang sebelumnya pernah nyantumin kode seperti di atas. Apaan sih maksudnya? Trus ada apa sih sama judul yang seperti slogan iklan mobil paling laku di Indonesia itu? Nah...

Jawaban yang pertama:
Gue punya gaya yang berbicara/menulis punya standar gaya berbahasa yang beda-beda, tergantung situasi & kondisi, tapi bisa juga gak liat-liat situasi & kondisi :P Makanya jangan heran kalo misalnya gue ngobrol suka make pilihan kata yang rada-rada 'ajaib'. Kayaknya banyak orang, terutama dari daerah (non Jakarta) punya kecenderungan seperti ini, cuma dlm kasus gue lebih gak konsisten lagi. Jadi, begini kira-kira penjelasannya.

[mode standar bahasa #1]
Biasa disebut gaya bahasa "saya". Ini adalah gaya bahasa yang pertama dikenal oleh saya. Gaya bahasa Indonesia semi formal-formal yang biasa digunakan di rumah. Orang tua saya adalah tipikal perkawinan antar suku Jawa-Sunda, sementara tempat tinggalnya di Bandung yang sangat Sunda. Jadi sudah sejak awal orang tua saya menanamkan persatuan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Tapi karena percampuran budaya tadi, maka sangatlah lumrah terjadi berbagai 'serapan' kedua budaya dlm gaya bahasa Indonesia yg 'baik dan benar' ini. Gaya ini banyak dipakai saat saya kecil hingga SMP/SMA. Gaya ini sampai sekarang saya gunakan dalam pertemuan-pertemuan resmi, semi-resmi, atau bahkan cuma sekadar bertemu dengan teman lama, misalnya, termasuk tulisan-tulisan lama saya. Tapi tentu saja, yang paling nyaman adalah menggunakannya di rumah.

[mode standar bahasa # 2]
Ini kayaknya mah jadi gaya yg paling banyak dipake anak Bandung kalo ngobrol. Kepake terus sejak jaman eSDeh sampe kuliah. Gaya yang biasa ajah sih, gak jauh dari # 1, bahasa Indonesia berdialek sunda, pleus sisipan-sisipan sunda. Kadang-kadang awalnya ngomong Indo, eh keterusan jd nyunda terus. Sayah mah suka gak ngerti 'da, tapi rasanya teh enakeun ngomong kayak beginih, apalagih kalow udah akrab. Kumaha nya*, tapi gak sreg ajah gituh kalow gak seperti ituh. :P
*Gimana ya

[mode standar bahasa #3]
Gaya ini biasanya disebut gaya bahasa "gue-lu". Ngikutin perkembangan kepribadian pas waktu remaja (yg berarti hampir gak punya kepribadian), kepengaruh sama gaya kelihatan di majalah, radio & tv tentang pergaulan anak muda 'masa kini', gue so pasti ikutan doonng... Mulai SMA, udah biasa nyebut "gue-lu". Lebih parah sih, karena masih kepengaruh gaya #2, jadinya "guah-eluh". Awalnya sih kerasa aneh juga, tapi tetep nebelin telinga soalnya, kayaknya, banyak yg pake gaya bahasa kayak begini. Dunia remaja memang kadang-kadang aneh, supaya bisa 'nyambung' kita harus bergaya sama kayak kebanyakan orang.. Tp gue enjoy aja tuh. Kalo gue ngobrol ama orang Jakarta ga perlu penyesuaian lagi kan? :P

[mode standar bahasa #4]
Gaya "aku". Pertama kali memakainya untuk menulis sebuah puisi. Entahlah, rasanya lebih pantas aku melakukannya seperti itu. Dari sekian banyak yang bisa kutulis, aku akhirnya menulis puisi. Kukira seharusnya aku bisa menuliskan beruntai kata indah tentang kepedihan & cinta ke dalam sebuah cerpen, tapi aku berakhir dengan empat baris kalimat dengan rima. Jika kugunakan gaya ini, sebuah resensi film akan menjadi sebuah surat cinta :j Lucu, rasanya aku berada di dunia lain saat berkata-kata dengan gaya ini. Memang, aku tak pernah menggunakannya untuk berbincang-bincang, hanya untuk menulis, terutama jika ada kegelisahan, kepedihan, atau sekedar melankoli yang tak tertuntaskan. Seseorang pernah berkata kepadaku, "Derita karena cinta, adalah inspirasi sepanjang masa.." Kurasa dia benar :j

[mode standar bahasa #5]
Gaya "java". Sejak kuliah aku udah biasa sama bahasa jawa, terlebih karena banyak teman sejurusan memang berasal dari sana, dan bapakku memang orang jawa tulen. Aku gak pernah belajar/diajarin, tapi 'terpengaruh'. Pas kuliah sih ketularan dialeknya, sama ngerti sedikit, tapi gak pernah bisa ngomong sepotong pun bahasa jawa. Jd aku bisa bergaya jawa, tapi gak bisa ngomongnya :P Pas aku kerja di Jakarta, eh ndilalah ternyata 80% orang di divisiku itu orang jawa, karena ngerekrut banyak dari Jateng-Yogya-Jatim. Apalagi di unit kerjaku, cuma aku seorang yang sunda. Walhasil, 3 bulan kerja aku udah ngerti banyak sama bisa ngomong jawa sedikit. Jadi kebiasaan juga, ngobrol pake bahasa Indo dialek jawa: "Mas, iki piye tho*, ada request buat efek orang terbang pake sling, tapi budgetnya ndak turun-turun? Bayar pake apaan dong?" "Mbuh**. Aku ndak ngerti." "Yo wis***, kalo gitu kita pake senar pancing aja. Pedhot ora yo****? :P
*ini gimana sih
**Gak tau
***Ya udah
****Putus ga ya?

Ada satu lagi sih, "english mode". Tapi kayaknya gak terlalu jelas karakternya ya? I have no distinct dialect.

Gitu deh. Gak punya kepribadian? Justru malah multikepribadian :P


Jawaban yang kedua:
Gak kenapa-kenapa. Keren aja keliatannya ;)

Sunday, January 16, 2005

Minggu Pagi...

[ mode standar bahasa#1= on] *

Sebuah perjalanan kadang bisa memberikan pengalaman tersendiri, tapi nilai sebuah pengalaman baru akan terasa jika kita bisa 'berhenti' sejenak dari perjalanan tersebut. Berhenti sejenak, melihat-lihat 'pemandangan' yang terjadi, sebelum melanjutkan perjalanan. Nilainya, bisa sangat tinggi, tapi tak jarang hanya sekadar pemanis, sebagai bekal penghibur dalam perjalanan selanjutnya...
--

Pada satu hari menjelang akhir pekan, seorang teman menawarkan untuk ikut bersamanya ke Bandung. Berangkat jam 7 malam. Saya -kebetulan- memang berencana untuk pulang ke Bandung keesokan paginya, karena saya pikir perjalanan malam hari dengan kereta tidak akan nyaman mengingat traffic Jakarta-Bandung di akhir pekan. Mendengar tawaran itu, saya langsung berminat. Hari itu saya sebenarnya masih bertugas sampai malam hari, tapi karena acara hari itu tidak meminta hal-hal yang khusus, saya rasa saya bisa selesai lebih awal. Singkat kata, akhirnya saya dengan dia dan seorang teman yang lain berangkat malam itu.

Setelah berbagai penantian dan serba ketidakjelasan, akhirnya kami sukses berangkat sekitar pukul 9 malam (sukses? :j). Sepanjang jalan tol menuju keluar Jakarta kami asyik mengobrol tentang berbagai hal, dari mulai pekerjaan, bermacam-macam komentar & gosip tentang artis-artis (oh ya, dua orang teman seperjalanan saya adalah wanita), masalah perjodohan, sampai dengan serius membahas setiap lagu dari kaset yang diputar di mobil. Dari perbahasan itu, kami baru sadar bahwa kami tidak membawa banyak kaset, saat terjebak kemacetan di Ciawi. Karena kekurangan itu, mulai terasa gejala-gejala kebosanan; ada kekosongan saat memilih kaset yang akan diputar lagi, gelisah, lapar, dan perasaan untuk melakukan hal-hal yang tidak jelas. Akhirnya kami mulai... menyanyikan lagu-lagu yang samasekali jauh dari definisi 'keren' atau pun 'ngetop'.

Teman saya memulai dari lagu karangan Kak Seto yang saya sendiri tidak tahu-menahu, ditimpali komentar teman saya yang duduk di sebelahnya,
"Oh tidak, dia mulai lagi...".
Karena otak kami sedang sama-sama beku & kehabisan kaset yang menarik, kami tidak berhasil menggiringnya untuk diam ataupun menyanyikan lagu lain yang lebih menarik... Ternyata otak dia pun lumayan mumet, dan akhirnya berhenti pada sebuah lagu iklan sebuah produk susu berkalsium tinggi;
"Minggu pagi,
matahari bersinar cerah...".

Pepatah mengatakan: "If you can't beat them, join them." yang artinya: "Daripada pusing, mendingan ikutan gila." (???-gak penting-). Walhasil, kami bertiga menyanyikan lagu itu, dengan berbagai versi; dari versi yang 'baik & benar", sampai versi "kaset keriting"(dua-duanya memang ada di iklan tersebut); lagi, lagi, dan lagi...

Akhirnya kami keluar dari kemacetan, dan mood mendukung untuk memutar ulang kaset-kaset yang ada. Tapi tetap saja, setiap ada kekosongan, selalu aja ada saat untuk menyanyikan lagu yang sama, sebagai 'pemaksaan' untuk segera memutar kaset berikutnya. Sampai akhirnya kami sukses tiba di Bandung jam 02.30, setelah menempuh hampir 6 jam perjalanan (!).

Saya kembali ke Jakarta keesokan sorenya, langsung ngantor. Karena saya mulai bertugas subuh, saya putuskan menginap di kantor saja. Selesai tugas pagi, saya bisa pulang beberapa jam sebelum tugas lagi siang harinya. Lumayan, bisa tidur sebentar, mandi & berganti baju ( saya baru sadar bahwa saya tidak melakukan dua hal terakhir sejak berangkat kerja hari Jumat :P). Pulanglah saya, berjalan kaki di tepi jalan pagi itu. Saat itu Minggu pagi, dan matahari pagi bersinar dengan cerahnya... teringat lagi.

"Minggu pagi,
matahari bersinar dengan cerah..." (versi normal)
...
... (versi kaset keriting)
(.......dan saya kucel dengan sukses)
hiks.

Sebelum tidur lagi pagi itu, saya sms teman saya itu,
"Minggu pagi,
matahari bersinar dengan cerah..."
Siang hari balasan darinya tiba,
"Hahahahaha!"
"..."
"..."
Saya nyengir kuda.**

Entah apa nilai dari peristiwa ini, tapi yang jelas, saya punya kesan baru tentang Minggu pagi...



* Akan dijelaskan dalam posting berikutnya
** Bukan frasa yang baku. Tapi bila saya menggunakan "Saya menyeringai seperti kuda.", tidak memberikan kesan yang khas, dramatis ataupun menarik tentang ekspresi saya saat itu. ***
*** Saya lebih suka memakai frasa " Sayah seuri koneng." , tapi filosofi seuri koneng mungkin sulit ditangkap bagi yang tidak mengerti bhs Sunda :P

--

Saturday, January 15, 2005

Dua Belas Jam Di Nirwana

Akhirnya, terjadi lagi... Gue pulang ke Bandung jumat jam 9 malam kemarin, dan sudah di Jakarta lagi jam 8 malam. Minggu gue masuk lagi, jam 4 pagi. This job has really giving me new definition of "weekend" *sigh* Yes, my dayoff was on Saturday, which is weekend, but usually I don't get this 'lucky'. Jatah libur sehari, acak, & kadang disambung dengan tugas dini hari. Really nice. It's almost two years , and it succesfully made my nerve's getting cranky. Anyone else got their 2 dayoffs, so why can't we?

So there I was, stranded in Bandung, with a plan... to get back as soon as possible.
Ngingetin gue sama pengalaman dulu. Dulu gue cuma kangen, & need to escape, walaupun sekejap saja... Dan di sanalah aku... (my bahasa teacher would kill me if I use that phrase)


Dua Belas Jam Di Nirwana

/1/
Dua belas jam di nirwana
ketika kau berteman dengan bayangan
masa lalu dan masa depan
yang setia menemanimu berkelana

Kau dan seutas persahabatan
yang mengikatmu di kota ini
berjalan menyusuri siang
mencari arti dari sepotong hari
Mempertanyakan, apakah jalanan
yang kau tempuh sudah berseri
menghampar masa depan?

Dan kau pun terpaku
pada ribuan tanya
dan jutaan ragu
saat waktu berjalan.

Kau pun berjumpa dengannya,
-bayangan masa lalu itu-
walaupun hanya desah bayangnya
yang semakin membuatmu
sadar akan adanya
rindu yang menancap dada

Di nirwana ini kau menggapai rindu...

/2/
"Aku rindu ketinggian!",
ujarmu senja itu.
Maka di sanalah ketinggian,
saat kau bersama kawan
beserta kelebatan-kelebatan
bayangan sebuah nama.

Sebuah kebosanan,
ataukah kau yang lelah,
ketika malam berlalu saja
menyisakan perih sebuah cinta.

Di nirwana ini kau dan rindu berpisah...

(Bandung, Oktober 2003)

Thursday, December 30, 2004

Dan datanglah gelombang itu...

Senin pagi yg seperti biasa, ketika saya melintasi jalan itu menuju kantor. Melewati sebuah pelataran parkir di gedung sebelah, saya terpaku pada sebuah tiang bendera dengan bendera nasional besar yang dinaikkan setengah tiang. "Ada apa ini? Siapa yang berkabung?" hati ini bertanya-tanya. Pertanyaan baru terjawab ketika saya membuka e-mail: Aceh diluluhlantakkan gempa 9 skala richter, yang disambung terjangan tsunami dengan ketinggian sekitar 5-10 meter. Keterlaluan. Saya bekerja di sebuah stasiun tv nasional & nggak tahu apa-apa sampai 24 jam setelahnya. Memang saya bukan reporter, tapi masak ga nonton tv? Yah begitulah, pekerjaan saya memang (seringkali) membuat saya justru nggak pernah nonton tv. Pergi pagi, pulang dini hari sudah biasa. Sampai-sampai nggak pernah nonton tv lagi, saking bosannya. Bayangkan, setiap nonton tv yang terbayang di kepala adalah pekerjaan. So much for an entertainment... Anyway, that's not an excuse.

Segera setelah itu, semua liputan televisi manapun, dibanjiri gambar-gambar dari Aceh, setelah sehari sebelumnya masih minim gambar dan data krn semua hubungan terputus dari Aceh. Faktanya menunjukkan, hampir setengah wilayah NAD, terutama pantai barat & utara tersapu gelombang tsunami. Masyaallah... Satu yang teringat dari kilasan-kilasan itu, adalah gambar seorang gadis usia belasan, tampak berdiri di suatu sudut jalan, menangis tersedu-sedu... Entah siapa saja yang dia tangisi, seorang, dua-tiga orang, ataukah seluruh keluarganya yang hilang? Entah bagaimana kita bisa membayangkan itu semua: Suatu pagi, semua seperti akan berjalan baik-baik saja.. sampai tiba-tiba semuanya bergoncang. Gempa bumi yang dahsyat. Semua seperti akan runtuh, tapi gempa itu berhenti. Semua masih terkejut, berusaha melihat apa yang sudah terjadi, apakah semua baik-baik saja? Belumlah semua sempat menarik napas panjang, tiba-tiba datanglah dia; gelombang besar itu... tanpa ampun, menyapu semua yang ada di hadapannya. Perkiraan tinggi retakan: 14 m; perkiraan panjang retakan: 1000 km; lebar retakan: saya belum tahu. Saya bukan orang yang menguasai mekanika fluida, tapi melihat dimensi, dan energi kinetik yang dihasilkan perpindahan air sebanyak itu, perkiraan saya itu seperti menuangkan sungai Nil ke daratan Aceh. Banda Aceh misalnya, memang tidak seberapa jauh dari laut, tapi gelombang itu sanggup melemparkan sebuah tanker raksasa dari pelabuhan ke pusat kota yang kira-kira 4 km jauhnya. Bayangkan jika yang diterjang itu manusia, banyak manusia...

Akibatnya, ribuan keluarga hilang tersapu gelombang. Jumlah korban mencapai puluhan ribu nyawa yang melayang. Para penolong tak tahu lagi siapa yang dicari, karena-bisa dikatakan- hampir semua orang hilang! Kalaupun ada sebagian itu yang selamat, dapatkah kita bayangkan, berapa orang yang menjadi duda, janda, yatim, piatu, yatim piatu? Hitungan bukan lagi berapa anggota keluarga yang hilang, tapi berapa keluarga yang musnah! Mungkin juga, salah satunya, keluarga gadis kecil tadi...

Sekarang, apakah kita sudah bisa mendapatkan bayangan, apa saja yang sudah terjadi, dan semua akibat yang ditimbulkannya? Jika ya, maka sudah saatnya kita mengulurkan tangan, mencoba memberikan pertolongan apapun yang bisa kita berikan kepada mereka yang benar-benar sedang kesusahan ini... demi masa depan mereka, demi masa depan kita semua...

(*)
Sekadar informasi, untuk memberikan bantuan, sebaiknya bertanya dulu pada posko-posko bantuan yang ada, lebih bagus lagi meminta informasi ke poskonya PMI pusat, apa saja yang sangat dibutuhkan di sana saat ini. Ini karena tidak semua yang diberikan itu bisa langsung dimanfaatkan. Di kantor saya saat ini sudah menumpuk banyak bantuan yang akan dikirim, seperti makanan instan, pakaian layak pakai, dll. Tapi sayang sekali, menurut informasi yang saya terima, bantuan-bantuan itu saat ini tidak banyak berguna, paling tidak untuk 2 minggu mendatang. Apalagi sarana transportasi sangat terbatas. Sekarang ini justru yang dibutuhkan: sarung tangan yang bagus/kedap air, masker penutup hidung& mulut, kantong jenazah/body bag (saking banyaknya jenazah yang sudah busuk & tak tertangani), susu untuk bayi beserta dotnya, makanan siap saji (tdk dimasak dulu, mengingat kondisi air yg buruk & bbm langka), selimut, jaket yang cukup tebal. Daftar ini tidak mengikat, hubungi posko-posko bantuan terdekat. Jika bingung, ada baiknya sumbangkan uang saja ke rekening bantuan yang terpercaya. Alamat posko-posko, sudah menyebar lewat e-mail, ataupun di layar tv manapun. Silakan hubungi yang terdekat.


suari//widi out.

Sunday, December 19, 2004

The Anniversary: Part II

Image Hosted by  ImageShack.us
photo by suari//widi

16/12/2004. Ini adalah hari setahun jadian gue & tunangan. Setahun sudah berlalu, semua berjalan sangat cepat. Akhir bulan kemarin, gue ngelamar dia, & insyaallah pertengahan tahun depan kita berdua bakalan nikah. Hari ini, setahun yg lalu, gue & dia duduk di sebuah kafe dalam sebuah mal di blok m (not exactly a romantic place, eh?), gue pegang kedua tangannya sambil berkata: "Aku tak bisa memberimu kepastian di dunia ini, tapi... maukah kamu berjalan bersamaku, menuju kepastian?" Nggak lama, dia pun mengiyakan... and the eggshell was broken! :)

Dia bukan cinta pertama gue, tapi dialah cewek pertama gue, setelah selama ini sukses menjadi "jomblo perak" :).

Jadi inget semua proses jadian sama dia... Nggak lama, tapi efeknya cepat sekali.
Intisarinya, gue jadiin puisi, yg gue tulis sebelum kita jadian...

Pertemuan

Kita bertemu di kota itu
ketika lalu-lalang berpindah
Kau yang termenung,
dan aku yang menerawang

Seutas obrolan tak tercipta
oleh dunia bawah yang berlalu
Selintas masa dan kawan
terlewati; kita mungkin terpaku.

Senja belumlah matang,
saat kau mengajakku bertualang
Dan di sanalah kita berada:
Aku dan kau, di alam kata

Kita berenang di dalamnya;
mencoba menyelami makna
Seuntai kata kau habiskan,
beberapa kubawa pulang

Malam belumlah beranjak
ketika pesan kutiupkan
tentang rasa dalam kata
yang hilang; terhenyak.

Dan kau, adalah kata yang hidup.

(Jakarta, November 2003)

Honey, Happy 1st Anniversary...:)

The Anniversary: Part I

Image Hosted by ImageShack.us
Kaka Slank, after flown by sling cable... (photo by suari//widi)

15/12/2004, that was the anniversary day of this tv station where I am working. It was the second time I involved in this kind of ceremony. The mission is simple: To celebrate with massive BANG! This year, we didn't use the indoor-outdoor thingy and stick to the old way: The great indoors. (Yeah, it's musim hujan gitu lhoo!) Just a venue, with an uprised stage, and a huge, concert-like -kinda-snakepity-main set. Its big alright. This time the props team didn't have to prepare tons of props for the event(Last year we have to prepare, say... a houseful of it?). Keep it simple, with good contents, that's the way we (should) do it. Nevertheless, this job was kinda full of functions to execute. Let's see...

The gardener+decorator
Mission: to set up a "pos ronda", complete with the things in and out: kentongan, lots of plants, a phone booth, a motorbike(from the sponsor), etc.
Time of execution: a night before D-Day.
Personnels: 3 men (me+2 other guys)

The prop master
Mission: to handle & drop properties needed to point of objective, also prepare them for the execution.
Time of execution: D-Day, -12 of H-Hour.
Personnels: 3 men + 1 woman, 1 man + 1 woman as logistics support.

The procurement officer
Mission: to purchase anything which was not supplied by the warehouse.Time of execution: -4 of H-Hour.
Personnels: 3 men (What?!) -actualy just one, the other 2 just tagging along :P-

The props person
Mission: to deploy any props according the rundown script (It's time 2 rock 'n roll!)
Time of execution: H-hour, during all of the operation.
Personnel: 5 men+women

The artillery detachment
Mission: To deploy ceiling convetty, shoot the stage with convetty guns, and bombard the audience with ballons.
Time of execution: H-hour +4, closing time.
Personnel: 1 ceiling convetty commander, 3 convetty gunmen, 1 ballon bomber-commander
Motto of the detachment: We proud of what we shot!

Status: mission accomplished.

Well, at least everything went fine until we realised that we have to brought a truckfull of props back to the office...

Sunday, December 12, 2004

Err, plastic surgery, please?

After seeing this blog o' mine for couple of times, I don't feel very satisfy of what it looks like.
Soon enough, there would be a huge face transplantation for this blog. I've been scanning blogskins.com for a quick make-over but haven't found the one I'm looking for. I could create something on my own, but time & equipment constraints has my hands tied real tight. God, I could use something like, my own computer, so would you give me one, real soon? :j
Oh I miss those good old days with my old compie in Bandung...

I have some new books to read, & some writings to publish here, so I'll be back for some kick, later :j

Monday, December 06, 2004

Menatap Senja Hari Ini

There was this funny feeling, when I saw the sunset this afternoon. Ketika gue melihat senja yg sama tahun lalu, gue sibuk dgn diri gue sendiri, dgn harapan masa depan, dalam kesendirian.Tahun ini, gue gak lagi sendirian, bahkan gue udah tunangan, & akan menikah tahun depan...Kemarin gue sempet beli bukunya ibu ini, setelah tahun lalu beli buku suaminya. Gara-gara buku sang suami, gue nyantol sama cewek yang sekarang jadi tunangan gue. Padahal dulu kami udah temenan dua tahunan tanpa "setrum" apapun. Lucu ya. At some moment of time, she was nothing but a friend, but now she is almost mean everything for me. Nah, pas gue baca bukunya Ninit, gue ngeliat sesuatu; di situ ditulis: "...cinta kadang datang dengan cara yg aneh." Hmm...gue banget kayaknya. Lucu juga, karena gue jg ngerasa hal yg sama pas baca bukunya Adhit; gue banget deh. Gue emang sekampus sama Adhit, seangkatan pula, walaupun dia gak kenal gue, tapi kita kenal beberapa org yg sama. Kelakuan kita pun banyak seperti jomblo2 UNB yg digambarin sama Adhit di situ. ITU yg membuat buku itu sangat, sangat lucu buat gue. Sekarang, giliran buku istrinya yg mirip jg sama kejadian gue & cewek, eh, tunangan gue.Lucu ya, bagaimana dua buku yg berasal dari sepasang anak manusia, bisa mempunyai keterkaitan dgn kisah hidup sepasang anak manusia yg lain, walaupun mereka tak pernah saling bercerita....

Hidup memang kadang aneh. Bahkan lebih aneh dari sekotak coklat ;)

Wednesday, December 01, 2004

Aku Perawan...? (sebuah ulangan)

Lebaran yg menyenangkan. Libur seminggu lebih di Bandung, setelah sumpek ngerjain sinetron selama hampir 6 bulan, mungkin sesuatu yg benar2 aku butuhin. Lumayan jg nyantai2 tanpa kerjaan yg hrs dikerjain besoknya, tanpa pacar ( maaf ya sayang :P), tanpa hrs pengen pergi ke banyak tempat. Pokoknya libur, semau gue, semales yg gue mau.

Pas di Bandung itulah, aku sempet jalan2, krn sekalian jg ketemu temen. Pertemuan selesai, tinggal aku sendiri di BIP. Mampirlah aku ke bioskop 21. Diliat-liat, cuma ada 3 pilihan buat nonton siang itu: The Incredibles, Issue, & Virgin. The Incredibles, filmnya Pixar yg terbaru, kayaknya cukup seru & masa tayang masih cukup lama; Issue & Virgin, film2 Indo yg biasanya gak terlalu lama tayang. Jadi, nanti saja utk Incredibles. Issue, kyknya gak terlalu menarik (serius bgt gt loh, & katanya sih jempolnya ke bwh) plus udh main 5 menit, jadi lewat. Virgin deh. Dari judulnya, kyknya cukup kontroversil, & kalo iya, akhir masa tayangnya tinggal nunggu ada yg protes. Wah, jadi poin lebih nih! Ternyata ga ngantri panjang pula. Nonton ah....

Akhirnya aku nonton Virgin, sendirian, dan.... dikelilingi abg2 dengan sukses... lagi. (SIGH)
Memang filmnya tentang abg2 gitu sih. Kali ini dgn cerita yg cukup berat, menyangkut pergaulan bebas & pilihan2 di sekitarnya (which is very limited). Penggambarannya cukup vulgar, tapi realistis faktanya, dgn pembesaran di beberapa hal (konflik2 gaya american teen-flick gt deh), gaya hidup & alur ala sinetron indo-india (yg ga realistis itu), dan sedikit buka2an baju (walopun yg ga perlu dibuka udh keliatan jg banyak). Fokus pada 3 org sohib (nama2nya lupa), yg satu jd pecun, yg satu cewek kaya tp bergaya hdp pecun, yg satu lagi cewek writer-wannabe yg tetep coba bertahan sama temen2nya tp pgn tetep virgin. Ketiganya dari keluarga broken home. Film ini bercerita banyak ttg perjalanan mereka dlm lingkar pergaulan yg bebas banget.

Satu hal yg lucu, judul film ini Virgin: Ketika Keperawanan Dipertanyakan... Tapi menurutku sih, gak ada yg mempertanyakan soal keperawanan. Yang mencoba tetep perawan cuma satu org, dan gak ada yg mempertanyakan (by really-really, seriously) kenapa dia pgn ttp perawan. Kalau pun ada situasi yg membuatnya begitu, itu hanya karena dia terjepit keadaan yg memberikan pilihan: apa dia mau menukar keperawanannya itu utk sejumlah uang atau menghadapi utang yg besar jumlahnya. Itu pun bukan salah dia. Menurutku sih, film ini adalah: "A display of brutal teenage idiocies". Brutal, krn di situ digambarkan bagaimana 'petualangan' dua cewek (yg ga perawan) bermain2 dgn tubuh mereka. Brutal, krn digambarkan mereka melakukannya tanpa pertimbangan matang sama sekali. They even gamble on their bodies! (atw 'dgn kelamin mereka'? You know my point laa)

Sekumpulan konflik2 yg brutal itu diakhiri dgn ending yg super-klise. Yah, cuma segitu aja? :j Ada adegan yg lucu, di tengah konflik2 berat itu: Seorang cowok bintang sinetron yg ditaksir Biyan si virgin akhirnya jadian sama Biyan. Lagi serius2nya momen romantis, tiba2 dia menarik diri dari romantisme, sambil bilang "Kita tak mungkin bersatu..". "Kenapa?". "...punyaku kecil...". Gubrak. My feet was over my head. Kalo aku jadi Biyan, aku bkln bilang: "Really? Let me see first laa..." :P

Ada satu hal lg yg aku ga sreg. Di situ banyak jg diperlihatkan hal2 salah kaprah ttg seks, tanpa penjelasan ttg kesalahkaprahan & konsekuensi lain dari tindakan seks bebas itu. Kayak diasumsikan bahwa yg nonton udh dpt sex-ed yg memadai. Pdhl ya blm tentu jg, wong yg nonton banyak abg2 yg kinyis2 gitu kok, apalg kalo diputer di daerah. Liat aja, paling2 sebentar lg dpt protes, terutama dr daerah2 tertentu. Kayaknya perlu dibarengin jg sama penyuluhan seks/aids jg deh.
Fiuh panjang jg ya? Udahan dulu kalo gitu deh. Msh banyak yg pengen ditulis, tp kyknya hrs beda artikel deh :)

Thursday, November 25, 2004

Retry: Kesebalan tingkat tinggi

Hmmmppphhh.... Kemaren gw nulis artikel buat blog ini, udh lumayan panjang & serius nulisnya. Akhirnya gw publish, dan ternyata.... connection time out & tulisan gw ilang di jagat maya... Aaarrrrghhh!!! Lain kali mendingan gw tulis pake notepad dulu kalo memang serius ah! Mo nulis lagi, jd ilfil... Anyway, it's about the movie "VIRGIN'. Segitu dulu deh. Kalo udh mood lagi baru gw tulis lagi...

Monday, November 08, 2004

Conversation with myself...

It's been a year since I sign in to the blogspot.com, but as you can see, only once I wrote in it. "Hell, Man, where have u been?" Nowhere. Just here, and a couple there and there. Usually I put my ideas into writings, no matter where it was. As long as I feel, I wrote something here and there. But it's just occured to me that, I actually have nothing written since last year!

Well, that leaves a question, where had all the thoughts that I have gone to? To be more frankly, where had the history of my life gone? What a mess...

Can't do anything straight now, not until I put everything together again.
Things have gone lighter for now, so I could use some time to have a conversation with myself.

(Conversation with yourself?) --believe me, sometimes, sometimes you'll need it :j--
Hell, it sounds like a song title... wait a minute... yes it is. It's Monday Michiru's...
S***t, I lost that cassete a year ago... (sigh)..

Sunday, November 07, 2004

The 13th...

Thirteen episodes of joy,
Thirteen episodes of pain,
Thirteen episodes of fun,
Thirteen episodes of agony,
Thirteen episodes of hard work, yet
Thirteen episodes of lame work...

Finally.

Breathe it.
Living it.
Sleep on it.
Get over it.
Loving it.
(Hell, it's great to be)

Thirteen episodes of my life, in pieces.
Yet thirteen episodes of another life.
(What life anyway?)

And all I wanted is hundreds of good episodes...

--

(long live the krikills)


Thank you for all crew of "sinetron" (tv series) DEWA,
may the force be with you...